Masih ingat dengan tipe-tipe profil kepribadian yang telah dibahas dalam FirstArticle sebelumnya? Pembahasan kali ini mengulas lebih dalam pola hubungan antara kepribadian dengan aspek lain yang tidak kalah penting dalam dunia kerja, yaitu IQ (Intelligence Quotient) atau kecerdasan. Pemahaman terhadap hubungan ini menjadi krusial bagi organisasi dalam merancang strategi pengembangan talenta yang berkelanjutan dan berbasis data.
Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa lima dimensi kepribadian dalam alat ukur STAGE memiliki hubungan yang signifikan dengan skor IQ. Di antara kelima dimensi tersebut, genuineness menunjukkan korelasi yang paling tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa individu dengan keterbukaan terhadap pengalaman baru dan rasa ingin tahu yang tinggi cenderung memiliki skor IQ yang lebih baik.

Selaras dengan hasil analisis korelasi, analisis regresi linear berganda juga menunjukkan bahwa kelima dimensi STAGE memainkan peran dalam membentuk profil kognitif individu. Berdasarkan model regresi tersebut, dimensi genuineness kembali muncul sebagai prediktor yang paling kuat dibandingkan dimensi lainnya. Hasil ini sejalan dengan penelitian Stankov (2018) dan Schretlen et al. (2010) yang menyatakan bahwa openness to experience, yang tercermin dalam dimensi genuineness pada STAGE, mendorong individu untuk terus belajar dan mendalami topik-topik kompleks, sehingga menstimulasi peningkatan kapasitas kognitif dan skor IQ.
Meskipun terdapat aspek kepribadian yang berkontribusi terhadap tingkat kecerdasan, IQ tidak hanya dipengaruhi oleh faktor psikologis. Faktor biologis seperti usia juga memiliki peran yang signifikan. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif antara usia dan skor IQ, yang polanya terlihat pada grafik yang disajikan.
Pola pada grafik ini sejalan dengan fenomena age-related cognitive decline, dimana peningkatan usia berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif. Temuan ini diperkuat oleh analisis regresi sederhana yang menunjukkan bahwa usia merupakan prediktor signifikan terhadap penurunan skor IQ. Hasil ini konsisten dengan studi Zimprich et al. (2009) dan Schaie (2005) yang menjelaskan bahwa kapasitas individu dalam memproses informasi cenderung menurun secara bertahap seiring bertambahnya usia. Tanpa adanya faktor moderasi, usia dapat berkontribusi sebesar 6,1% terhadap variasi penurunan skor IQ individu.
Menariknya, pengaruh usia terhadap penurunan kecerdasan tidak bersifat seragam pada setiap individu. Melalui Moderated Regression Analysis (MRA), ditemukan bahwa dimensi genuineness pada STAGE berperan sebagai moderator yang signifikan dalam hubungan antara usia dan IQ. Grafik yang disajikan menunjukkan bahwa tingkat genuineness yang tinggi mampu memperlambat laju penurunan kecerdasan seiring bertambahnya usia.
Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun usia memiliki korelasi negatif terhadap skor IQ, individu dengan keterbukaan dan keinginan belajar yang tinggi cenderung mempertahankan fungsi kognitif yang lebih optimal. Hal ini juga didukung oleh penelitian Ziegler et al. (2015) yang menekankan bahwa dimensi openness memengaruhi tingkat kecerdasan individu seiring bertambahnya usia. Dimensi ini mengukur aspek yang sejalan dengan genuineness pada STAGE dan berfungsi sebagai faktor penyangga atau buffer terhadap penurunan fungsi kognitif, sehingga dampaknya dapat diminimalkan meskipun usia terus bertambah.
Hubungan antara fungsi kognitif dan usia menjadi pembahasan yang semakin relevan dalam konteks organisasi. Secara umum, posisi-posisi manajerial diisi oleh individu dengan usia yang lebih senior dibandingkan staf. Meskipun peran manajerial menekankan kepemimpinan dan keahlian, posisi ini juga membutuhkan kemampuan strategic thinking yang mumpuni. Dengan ini, diperlukan dukungan fungsi kognitif yang optimal agar pengambilan keputusan strategis dapat tetap dilakukan secara efektif.
Fungsi kognitif individu dapat dipertahankan melalui perilaku pembelajaran yang aktif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, organisasi perlu menyediakan ruang eksplorasi melalui strategi pengembangan yang inovatif untuk memotivasi talenta agar terus tumbuh dan menguasai berbagai kompetensi baru, terlepas dari usia maupun jabatannya. Pendekatan ini tidak hanya mendukung kinerja individu, namun juga memperkuat daya saing organisasi secara keseluruhan.
Sebagai konsultan dengan misi untuk mendampingi perkembangan organisasi Anda, Firstasia Consultants menyediakan berbagai solusi bisnis berbasis data untuk membantu Anda mengoptimalkan potensi sumber daya manusia organisasi.
Are you ready to be ahead with us?
Give us a call!
REFERENSI:
Schaie, K.W. (2013). Developmental influences on adult intelligence: The Seattle Longitudinal Study (2nd ed.). Oxford University Press.
Schretlen, D.J., Hulst, E.J., Pearlson, G.D., & Gordon, B. (2010). A neuropsychological study of personality: Openness in relation to intelligence, fluency, and executive functioning. Journal of Clinical and Experimental Neuropsychology, 32(10), 1068-1073. https://doi.org/10.1080/13803391003689770
Specht, J., Luhmann, M., & Geiser, C. (2014). On the consistency of personality types across adulthood: Latent profile analyses in two large-scale panel studies. Journal of Personality and Social Psychology, 107(3), 540–556. https://doi.org/10.1037/a0036863
Stankov, L. (2018). Low correlation between intelligence and big five personality traits: Need to broaden the domain of personality. Journal of Intelligence, 6(2), 26. https://doi.org/10.3390/jintelligence6020026
Ziegler, M., Cengia, A., Mussel, P., & Gerstorf, D. (2015). Openness as a buffer against cognitive decline: The openness-fluid-crystallized-intelligence (OFCI) model applied to late adulthood. Psychology and aging, 30(3), 573–588. https://doi.org/10.1037/a0039493
